Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Jadilah diri sendiri

Mengenal diri sendiri ternyata lebih sulut daripada mengenal orang lain, tidak percaya diri salah satu bentuk dari itu semua, terkadang kita sering membandingkan dengan orang lain supaya kita bisa bergerak. Karena mungkin hati kita masih terpaut pada ke egoisan ilmu yang dimiliki, rasa rasanya ketika melihat orang lain menghasilkan kreatifitasnya hati kita ikut terbakar ingin menghasilkan yang sama atau bahkan lebih dari itu. Lalu kenapa tidak dengan menghasilkan karya sendiri dengan ide ide yang dimiliki ? Saya sadar perilaku yang seperti itu sangat rugi sekali, terlebih mendzolimi diri sendiri dan itu sangatlah tidak baik. Bagaimana bisa mengenal tuhan kalau seandainya kita tidak mengenal diri sendiri ?. 

Enyahlah !!

Mata penyampai pertama. Akal metode pemaham. Segumpal darah menjadi penentu. Lalu tak kau gunakan dengan baik? Maherat !! Tak ada guna kau disini, delegasikan saja pada manusia bersayap atau tanah penopang bentala. Dengan begitu akan terbebas dari amanah semesta.

Hanya Karena Cinta Pertama

Cinta pertama memang sulit tuk dilupa Datang kemudian pergi Lalu untuk apa kau hadir ? "Enyahlah aku muak"  Bagaimana mungkin lisan tak selaras dengan hati, lisan menolak namun hati tidak. Memang cinta datang dari darah yang menggumpal. Bukan dari daging yang tak memiliki tulang. Jika memang sulit tuk melupa kejar jangan biarkan serigala memangsanya. Jika memang sulit mengejar, buatlah kala yang bagus. Jika memang masih sulit lepaskanlah biarkan serigala itu memburu yang lain.

Lalu untuk apa CINTA ?

Memalukan memang cinta karena pelampiasan, memaksakan kehendak yang mulanya ingin pindah kelain hati namun secara tidak langsung cintanya buta, malah yang dicintainya merasakan kelelahan. Entah itu sebagai buktinya bahwa dia mampu tanpa dirinya atau mungkin sebagai bukti bahwa mencintai tidaklah susah (?). Manusia diciptakan dengan sesempurna mungkin, memiliki panca indera untuk bisa mengenal sesuatu atau mengetahui sesuatu, lewat panca indera itu sendiri kita dapat mengetahui karakternya, kita dapat melihat orang ketika berbicara, tatapan mata hingga sampai ke geraknya.  Masa lalu memanglah tidak untuk dikenang, namun masa lalu memiliki kenangan yang sulit untuk dilupakan, apalagi berhubungan dengan perasaan, karena perlu banyak alasan yang tak mampu disampaikan.  Dalam hatinya berucap (gini) namun kenyatanya (gitu), saya heran ketika dusta sudah bergelut dengan kejujuran hanya karena menutupi masa lalunya, entahlah bukan maksudku berburuk sangka. Namun sudah banyak bukti yan...